LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN
TRAUMA ABDOMEN
Compiled by :
LINA AYU PRAMATASARI
- Definisi
Trauma abdomen adalah cedera pada
abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau
tidak disengaja
(Smeltzer, 2001).
Trauma adalah cedera fisik dan psikis,
kekerasan yang mengakibatkan cedera.
(Sjamsuhidayat, 1997).
Trauma abdomen didefinisikan sebagai
kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang
diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk
(Ignativicus & Workman, 2006).
- Etiologi dan klasifikasi
Trauma terbagi atas 2
jenis yaitu trauma tembus dan tumpul, masing-masing memiliki etiologi yang
berbeda, beberapa diantaranya yaitu :
1. Trauma
tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium).
Disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
2. Trauma
tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium)
Disebabkan oleh : pukulan, benturan, ledakan, deselerasi,
kompresi atau sabuk pengaman
- Tanda dan gejala
Berikut ini merupakan
manifestasi klinis yang dapat muncul pada pasien dengan trauma abdomen :
1. Laserasi,
memar,ekimosis
2. Hipotensi
3. Tidak
adanya bising usus
4. Hemoperitoneum
5. Mual
dan muntah
6. Adanya
tanda “Bruit” (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah, biasanya pd arteri
karotis)
7. Nyeri
8. Perdarahan
9. Penurunan
kesadaran
10. Sesak
11. Tanda
Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limfa.Tanda
ini ada saat pasien dalam posisi recumbent.
12. Tanda
Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal
13. Tanda
Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh ( pinggang ) pada perdarahan
retroperitoneal
14. Tanda
coopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia pada fraktur pelvis
15. Tanda
balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran kiri atas ketika
dilakukan perkusi pada hematoma limfe
(Scheets, 2002 : 277-278)
- Patofisiologi
Bila suatu kekuatan eksternal
dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalu lintas, penganiayaan,
kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma
merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor fisik dari kekuatan
tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan
dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat
benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan
menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan
yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastisitas
dan viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk
kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan
untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan
benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut. Beratnya trauma yang terjadi
tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan
jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah
posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi
cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :
a. Meningkatnya
tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar
seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat
mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
b. Terjepitnya
organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau
struktur tulang dinding thoraks.
c. Terjadi
gaya akselerasi-deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek pada
organ dan pedikel vaskuler.
- Komplikasi
Dibawah ini merupakan komplikasi
yang dapat ditimbulkan dari trauma abdomen :
1. Segera
: hemoragi, syok, dan cedera.
2. Lambat
: infeksi
- Pemeriksaan diagnostic
1. Foto
thoraks Untuk melihat adanya trauma pada thorax.
2. Pemeriksaan
darah rutin Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi
perdarahan terus menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi
menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak kemungkinan ruptura lienalis. Serum
amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas atau
perforasi usus halus. Kenaikan transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pads
hepar.
3. Plain
abdomen foto tegak Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara
bebas retroperineal dekat duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus
4. Pemeriksaan
urine rutin Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai
hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada
saluran urogenital.
5. VP
(Intravenous Pyelogram) Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada
persangkaan trauma pada ginjal.
6. Diagnostic
Peritoneal Lavage (DPL) dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus
dalam rongga perut. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat
diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard).
Pemeriksaan khusus
1. Abdominal
paracentesis Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk
menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari 100.000
eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah
dimasukkan 100–200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi
untuk laparotomi.
2. Pemeriksaan
laparoskopi Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber
penyebabnya.
3. Bila
dijumpai perdarahan dan anus perlu dilakukan rekto-sigmoidoskopi.
- Penanganan Awal
Pengkajian yang dilakukan untuk
menentukan masalah yang mengancam nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang
terjadi di lokasi kejadian. Paramedik mungkin harus melihat Apabila sudah
ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani,
penilaian awal dilakuakan prosedur ABC jika ada indikasi, Jika korban tidak
berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas.
1. Airway
Dengan
kontrol tulang belakang, membuka jalan napas
menggunakan teknik
‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa
adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas. Muntahan,
makanan, darah atau benda asing lainnya.
2. Breathing
Dengan
ventilasi yang adekuat memeriksa pernapasan dengan
menggunakan cara ‘lihat-dengar-rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk
memastikan apakah ada napas atau tidak, Selanjutnya lakukan pemeriksaan status
respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan).
3. Circulation
Dengan
Kontrol Perdarahan Hebat Jika pernapasan korban tersengal-sengal dan tidak
adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda
sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan
bantuan napas dalam RJP adalah 15 : 2 (15 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan
napas
Penatalaksanaan
kedaruratan
1.
Mulai prosedur resusitasi
(memperbaiki jalan napas, pernapasan, sirkulasi) sesuai indikasi
2.
Pertahankan pasien pada
brankar atau tandu papan ; gerakkan dapat menyebabkan fragmentasi bekuan pada
pada pembuluh darah besar dan menimbulkan hemoragi massif
3.
Pastikan kepatenan jalan
napas dan kestabilan pernapasan serta sistem saraf.
4.
Jika pasien koma, bebat
leher sampai setelah sinar x leher didapatkan.
5.
Gunting baju dari luka.
6.
Hitung jumlah luka.
7.
Tentukan lokasi luka masuk
dan keluar.
8.
Kaji tanda dan gejala
hemoragi. Hemoragi sering menyertai cedera abdomen, khususnya hati dan limpa
mengalami trauma.
9.
Kontrol perdarahan dan
pertahanan volume darah sampai pembedahan dilakukan.
a. Berikan
kompresi pada luka perdarahan eksternal dan bendungan luka dada.
b. Pasang
kateter IV diameter besar untuk penggantian cairan cepat dan memperbaiki
dinamika sirkulasi.
c. Perhatikan
kejadian syoksetelah respons awal terjadi terhadap transfusi ; ini sering
merupakan tanda adanya perdarrahan internal.
d. Dokter
dapat melakukan parasentesis untuk mengidentifikasi tempat perdarahan.
10.
Aspirasi lambung dengan
selang nasogastrik. Prosedur ini membantu mendeteksi luka lambung, mengurangi
kontaminasi terhadap rongga peritonium, dan mencegah komplikasi paru karena
aspirasi.
11.
Tutupi visera abdomen yang
keluar dengan balutan steril, balutan salin basah untuk mencegah nkekeringan
visera.
a. Fleksikan
lutut pasien ; posisi ini mencegah protusi lanjut.
b. Tunda
pemberian cairan oral untuk mencegah meningkatnya peristaltik dan muntah
12.
Pasang kateter uretra
menetap untuk mendapatkan kepastian adanya hematuria dan pantau haluaran urine.
13.
Pertahankan lembar alur
terus menerus tentang tanda vital, haluaran urine, pembacaan tekanan vena
sentral pasien (bila diindikasikan), nilai hematokrit, dan status neurologik.
14.
Siapkan untuk parasentesis
atau lavase peritonium ketika terdapat ketidakpastian mengenai perdarahan
intraperitonium.
15.
Siapkan sinografi untuk
menentukan apakah terdapat penetrasi peritonium pada kasus luka tusuk.
a. Jahitan
dilakukan disekeliling luka
b. Kateter
kecil dimasukkan ke dalam luka.
c. Agens
kontras dimasukkan melalui kateter ; sinar x menunjukkan apakah penetrasi
peritonium telah dilakukan.
16.
Berikan profilaksis tetanus
sesuai ketentuan.
17.
Berikan antibiotik spektrum
luas untuk mencegah infeksi. trauma dapat menyebabkan infeksi akibat karena
kerusakan barier mekanis, bakteri eksogen dari lingkungan pada waktu cedera dan
manuver diagnostik dan terapeutik (infeksi nosokomial).
18.
Siapkan pasien untuk
pembedahan jika terdapat bukti adanya syok, kehilangan darah, adanya udara
bebas dibawah diafragma, eviserasi, atau hematuria
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Apabila trauma
non penetrasi (trauma tumpul)
pertolongan pertama yang dapat dilakukan yaitu :
a. Stop
makanan dan minuman
b. Imobilisasi
c. Kirim
kerumah sakit.
d. Lakukan Diagnostic Peritoneal Lavage
(DPL)
Dilakukan
pada trauma abdomen perdarahan intra abdomen, tujuan dari DPL adalah untuk
mengetahui lokasi perdarahan intra abdomen. Indikasi untuk melakukan DPL,
antara lain :
1. Nyeri
abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya
2. Trauma
pada bagian bawah dari dada
3. Hipotensi,
hematokrit turun tanpa alasan yang jelas
4. Pasien
cidera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat, alkohol, cedera otak)
5. Pasien
cedera abdominalis dan cidera bmedula spinalis (sumsum tulang belakang)
6. Patah
tulang pelvis
Pemeriksaan
DPL dilakukan melalui anus, jika terdapt darah segar dalm BAB atau sekitar anus
berarti trauma non-penetrasi (trauma tumpul) mengenai kolon atau usus besar,
dan apabila darah hitam terdapat pada BAB atau sekitar anus berarti trauma
non-penetrasi (trauma tumpul) usus halus atau lambung. Apabila telah diketahui
hasil Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL), seperti adanya darah pada rektum atau
pada saat BAB. Perdarahan dinyatakan positif bila sel darah merah lebih dari
100.000 sel/mm³ dari 500 sel/mm³, empedu atau amilase dalam jumlah yang cukup
juga merupakan indikasi untuk cedera abdomen. Tindakan selanjutnya akan
dilakukan prosedur laparotomi. Adapun Kontra
indikasi dilakukan Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL), antara lain sebgai berikut :
a. Hamil
b. Pernah
operasi abdominal
c. Operator
tidak berpengalaman
d. Bila
hasilnya tidak akan merubah penata-laksanaan
Apabila penetrasi
(trauma tajam) pertolongan pertama yang dapat dilakukan yaitu :
a. Bila
terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh
dicabut kecuali dengan adanya tim medis
b. Penanganannya
bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain kassa pada daerah
antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah luka.
c. Bila
ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan
dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban steril
d. Imobilisasi
pasien
e. Tidak
dianjurkan memberi makan dan minum
f. Apabila
ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
g. Kirim
ke rumah sakit
H.
Asuhan
Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian
adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh
(Boedihartono, 1994). Pengkajian
pasien trauma abdomen (Smeltzer, 2001) adalah meliputi :
a. Trauma
Tembus abdomen
1) Dapatkan
riwayat mekanisme cedera ; kekuatan tusukan/tembakan ; kekuatan tumpul
(pukulan).
2) Inspeksi
abdomen untuk tanda cedera sebelumnya : cedera tusuk, memar, dan tempat
keluarnya peluru.
3) Auskultasi
ada/tidaknya bising usus dan catat data dasar sehingga perubahan dapat
dideteksi. Adanya bising usus adalah tanda awal keterlibatan intraperitoneal ;
jika ada tanda iritasi peritonium, biasanya dilakukan laparatomi (insisi
pembedahan kedalam rongga abdomen).
4) Kaji
pasien untuk progresi distensi abdomen, gerakkan melindungi, nyeri tekan,
kekakuan otot atau nyeri lepas, penurunan bising usus, hipotensi dan syok.
5) Kaji
cedera dada yang sering mengikuti cedera intra-abdomen, observasi cedera yang
berkaitan.
6) Catat
semua tanda fisik selama pemeriksaan pasien.
b. Trauma
tumpul abdomen
1) Dapatkan
riwayat detil jika mungkin (sering tidak bisa didapatkan, tidak akurat, atau
salah). dapatkan semua data yang mungkin tentang hal-hal sebagai berikut :
a) Metode
cedera.
b) Waktu
awitan gejala.
c) Lokasi
penumpang jika kecelakaan lalu lintas (sopir sering menderita ruptur limpa atau
hati). Sabuk keselamatan digunakan/tidak, tipe restrain yang digunakan.
d) Waktu
makan atau minum terakhir.
e) Kecenderungan
perdarahan.
f) Penyakit
danmedikasi terbaru.
g) Riwayat
immunisasi, dengan perhatian pada tetanus.
h) Alergi.
2) Lakukan
pemeriksaan cepat pada seluruh tubuh pasienuntuk mendeteksi masalah yang
mengancam kehidupan.
I.
Diagnosa
keperawatan
1. Defisit
Volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : Terjadi
keseimbangan volume cairan
Intervensi :
a. Kaji
tanda-tanda vital
Rasional: untuk
mengidentifikasi defisit volume cairan
b. Pantau
cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin
Rasional:
mengidentifikasi keadaan perdarahan
c. Kaji
tetesan infuse
Rasional: awasi
tetesan untuk mengidentifikasi kebutuhan cairan
d. Kolaborasi
: Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.
Rasional: cara
parenteral membantu memenuhi kebutuhan nuitrisi tubuh
e. Tranfusi
darah
Rasional: menggantikan darah
yang keluar
2. Nyeri
berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen. (Doenges,
2000)
Tujuan : Nyeri Teratasi
Intervensi :
a. Kaji
karakteristik nyeri
Rasional: mengetahui
tingkat nyeri klien
b. Beri
posisi semi fowler
Rasional: mengurngi
kontraksi abdomen
c. Anjurkan
tehnik manajemen nyeri seperti distraksi
Rasional: membantu
mengurangi rasa nyeri dengan mmengalihkan perhatian
d. Kolaborasi
pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional analgetik
membantu mengurangi rasa nyeri
e. Managemant
lingkungan yang nyaman
Rasional: lingkungan
yang nyaman dapat memberikan rasa nyaman klien
3. Resiko
infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan
tubuh
Tujuan : Tidak
terjadi infeksi
Intervensi :
a. Kaji
tanda-tanda infeksi
Rasional:
mengidentifikasi adanya resiko infeksi lebih dini
b. Kaji
keadaan luka
Rasional: keadaan
luka yang diketahui lebih awal dapat mengurangi resiko infeksi
c. Kaji
tanda-tanda vital
Rasional: suhu tubuh
naik dapat di indikasikan adanya proses infeksi
d. Perawatan
luka dengan prinsip sterilisasi
Rasional: teknik
aseptik dapat menurunkan resiko infeksi nosokomial
e. Kolaborasi
pemberian antibiotic
Rasional: antibiotik
mencegah adanya infeksi bakteri dari luar
4. Ansietas
berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan
Tujuan: ansietas
teratasi
Kriteria hasil:
a. Pasien
mengungkapkan pemahaman penyakit saat ini
b. Pasien
mendemontrasikan koping positif dalm menghadapi ansietas
Intervensi:
a. Kaji
perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada
waktu lalu
Rasional: koping yang
baik akan mengurangi ansietas klien
b. Dorong
dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut dan berikan
penanganan
Rasional: mengetahui
nsietas, rasa takut klien bisa mengidentifikasi masalah dan umtuk memberikan
penjelasan kepada klien
c. Jelaskan
prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit
Rasional: apabila
kliem tahu tentang prosedur dan tindakan yang akan dilakukan, klien mengerti
dan diharapkan ansietas berkurang
d. Pertahankan
lingkungan yang tenang dan tanpa stress
Rasional lingkungan
yang nyaman dapat membuat klien nyaman dalam menghadapi situasi
e. Dorong
dan dukungan orang terdekat
Rasional: memotifasi
klien
5. Gangguan
Mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik (Doenges, 2000)
Tujuan : Dapat
bergerak bebas
Intervensi :
a. Kaji
kemampuan pasien untuk bergerak
Rasional: identifikasi
kemampuan klien dalam mobilisasi
b. Dekatkan
peralatan yang dibutuhkan pasien
Rasional:
meminimalisir pergerakan lien
c. Berikan
latihan gerak aktif pasif
Rasional: melatih
otot-otot klien
d. Bantu
kebutuhan pasien
Rasional: membantu
dalam mengatasi kebutuhan dasar klien
e. Kolaborasi
dengan ahli fisioterapi
Rasional: terapi fisioterapi
dapat memulihkan kondisi klien
DAFTAR PUSTAKA
Doenges.
2000, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman
untuk perencanaan dan Pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3, Jakarta:
EGC
Dorland,2002,Kamus Saku Kedokteran .Jakarta :EGC
Ignativicus,
Donna D ; Workman. 2006. Medical Surgical
Nursing Critical Thinking for Collaborative Care. USA : Elsevier Saunders
Scheets,Lynda
J.2002.Panduan Belajar Keperawatan
Emergency.Jakarta: EGC
Sjamsuhidayat.
1997, Buku Ajar Bedah,EGC, Jakarta
Smeltzer
C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Komentar
Posting Komentar