BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Penyebab utama kematian
bayi adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia, dan bayi kurang bulan (prematur). Hampir
sepertiga kematian bayi baru lahir terjadi karena asfiksia dan BBLR. Di negara
berkembang 3,6 juta dari semua bayi baru lahir
mengalami asfiksia sedang atau
berat. Dari jumlah tersebut
sekitar 840.000 bayi yang meninggal (WHO, 2003). Angka kematian bayi di
Indonesia tahun 2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit
menurun jika dibandingkan dengan AKB tahun 2002-2003 yaitu sebesar 35 per 1000
kelahiran hidup (Depkes, 2008). Angka
kematian terendah pada Provinsi DIY sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup, dan
tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1000 kelahiran hidup. Pada
tahun 2009 target kematian bayi menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup. Kebijakan ini diharapkan akan mencapai hasil yang maksimal dengan adanya pelayanan kesehatan
yang berkualitas, tenaga penolong yang profesional serta didukung oleh
perlengkapan yang memadai (Depkes, 2008). Angka kematian bayi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2009 sebesar 7,75 per 1000 kelahiran hidup,
pada tahun 2010 sebesar 10,22 per 1000 kelahiran hidup (Dinkes Propinsi,
2010). Pada tahun 2009 di Kota Bengkulu angka kematian bayi berjumlah
54 (0,80%) dari 6.729
kelahiran bayi. Penyebab kematian bayi < 1 minggu adalah BBLR 28 orang, asfiksia 7 orang, dan lain-lain 18 orang (Dinkes Kota Bengkulu,
2009).
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir
yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Bila
terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama
kehamilan/persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan
bila tidak teratasi akan menyebabkan
kematian (Hassan, 2007). Pada tahun 2003-2007 angka kejadian asfiksia
di Indonesia adalah 27,97%. Sedikit mengalami peningkatan pada tahun
2008 sebanyak 29,23% (Depkes, 2008).
B. Tujuan
1.
Tujuan
Umum
Mahasiswa
mampu memahami tentang asuhan keperawatan pada bayi dengan asfiksia sedang.
2.
Tujuan
Khusus
Mahasiswa
mampu:
a.
Mengetahui
pengertian asfiksia sedang.
b.
Mengetahui
penyebab asfiksia sedang.
c.
Mengetahui
patofisiologi asfiksia
sedang.
d.
Menjelaskan
manifestasi asfiksia
sedang.
e.
Mengetahui klasifikasi asfiksia sedang.
f.
Mengetahui pemeriksaan penunjang pada asfiksia
sedang.
g.
Mengetahui penatalaksanaan pasien asfiksia sedang.
BAB II
KONSEP DASAR
A. DEFINISI
Asfiksia neonatus
adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga
dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk
dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2003). Asfiksia neonatus adalah keadaan
bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu
menit setelah lahir (Mansjoer, 2005).
Asfiksia berarti
hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini
berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.
Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya (Saiffudin, 2003).
Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia
(peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).
B. ETIOLOGI
Ada beberapa faktor etiologi dan predisposisi
terjadinya asfiksia, antara lain sebagai berikut:
1. Faktor Ibu
Hipoksia
ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat
terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam
gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi
karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.
2. Faktor
Placenta
Yang
meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis,
plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.
3. Faktor Janin dan Neonatus
Meliputi
tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara
janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenital dan lain-lain.
4.
Faktor
Persalinan
Meliputi partus lama, partus tindakan dan
lain-lain
C. PATOFISIOLOGI
Selama kehidupan di
dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam pertukaran gas oleh karena
plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat CO2 keluar dari tubuh janin. Pada
keadaan ini paru janin tidak berisi udara, sedangkan alveoli janin berisi
cairan yang diproduksi didalam paru sehingga paru janin tidak berfungsi untuk
respirasi. Sirkulasi darah dalam paru saat ini sangat rendah dibandingkan
dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh karena konstriksi dari arteriol
dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah paru akan melewati Duktus
Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk kedalam arteriol paru.
Segera setelah
lahir bayi akan menariknafas yang pertama kali (menangis), pada saat ini paru
janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan mengembang udara akan masuk
dan cairan yang ada didalam alveoli akan meninggalkan alveoli secara bertahap.
Bersamaan dengan ini arteriol paru akan mengembang dan aliran darah kedalam
paru akan meningkat secara memadai. Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup
bersamaan dengan meningkatnya tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari
jantung kanan (janin) yang sebelumnya melewati DA dan masuk kedalam Aorta akan
mulai memberi aliran darah yang cukup berarti kedalam arteriole paru yang mulai
mengembang DA akan tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi extrauterin akan
dipertahankan.
Pada saat lahir
alveoli masih berisi cairan paru, suatu tekanan ringan diperlukan untuk
membantu mengeluarkan cairan tersebut dari alveoli dan alveoli mengembang untuk
pertama kali. Pada kenyataannya memang beberapa tarikan nafas yang pertama
sangat diperlukan untuk mengawali dan menjamin keberhasilan pernafasan bayi
selanjutnya. Proses persalinan normal (pervaginam) mempunyai peran yang sangat
penting untuk mempercepat proses keluarnya cairan yang ada dalam alveoli
melalui ruang perivaskuler dan absorbsi kedalam aliran darah atau limfe.
Gangguan pada pernafasan pada keadaan ini adalah apabila paru tidak mengembang
dengan sempurna (memadai) pada beberapa tarikan nafas yang pertama. Apnea saat
lahir, pada keadaan ini bayi tidak mampu menarik nafas yang pertama setelah
lahir oleh karena alveoli tidak mampu mengembang atau alveoli masih berisi
cairan dan gerakan pernafasan yang lemah, pada keadaan ini janin mampu menarik
nafas yang pertama akan tetapi sangat dangkal dan tidak efektif untuk memenuhi
kebutuhan O2 tubuh. keadaan tersebut bisa terjadi pada bayi kurang bulan,
asfiksia intrauterin, pengaruh obat yang dikonsumsi ibu saat hamil, pengaruh
obat-obat anesthesi pada operasi sesar.
Dalam hal respirasi
selain mengembangnya alveoli dan masuknya udara kedalam alveoli masih ada
masalah lain yang lebih panjang, yakni sirkulasi dalam paru yang berperan dalam
pertukaran gas. Gangguan tersebut antara lain vasokonstriksi pembuluh darah
paru yang berakibat menurunkan perfusi paru. Pada bayi asfiksia penurunan
perfusi paru seringkali disebabkan oleh vasokonstriksi pembuluh darah paru,
sehingga oksigen akan menurun dan terjadi asidosis. Pada keadaan ini arteriol
akan tetap tertutup dan Duktus Arteriosus akan tetap terbuka dan pertukaran gas
dalam paru tidak terjadi.
Selama penurunan
perfusi paru masih ada, oksigenasi ke jaringan tubuh tidak mungkin terjadi.
Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung dari berat dan
lamanya asfiksia, fungsi tadi dapat reversible atau menetap, sehingga
menyebabkan timbulnya komplikasi, gejala sisa, ataupun kematian penderita. Pada
tingkat permulaan, gangguan ambilan oksigen dan pengeluaran CO2 tubuh ini
mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Apabila keadaan tersebut
berlangsung terus, maka akan terjadi metabolisme anaerobik berupa glikolisis
glikogen tubuh. Asam organik yang terbentuk akibat metabolisme ini menyebabkan
terjadinya gangguan keseimbangan asam basa berupa asidosis metabolik. Keadaan
ini akan mengganggu fungsi organ tubuh, sehingga mungkin terjadi perubahan
sirkulasi kardiovaskular yang ditandai oleh penurunan tekanan darah dan
frekuensi denyut jantung. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada penderita
asfiksia akan terlihat tahapan proses kejadian yaitu menurunnya kadar PaO2
tubuh, meningkat PCO2, menurunnya pH darah dipakainya sumber glikogen tubuh dan
gangguan sirkulasi darah. Perubahan inilah yang biasanya menimbulkan masalah
dan menyebabkan terjadinya gangguan pada bayi saat lahir atau mungkin berakibat
lanjut pada masa neonatus dan masa pasca neonatus.
Hipoksia janin atau
bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan penurunan perfusi pru
yang berlanjut dengan asfiksia, pada awalnya akan terjadi konstriksi Arteriol
pada usus, ginjal, otot dan kulit sehingga penyediaan Oksigen untuk organ vital
seperti jantung dan otak akan meningkat. Apabila askfisia berlanjut maka
terjadi gangguan pada fungsi miokard dan cardiac output. Sehingga terjadi
penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan saat ini akan mulai terjadi
suatu “Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE) yang akan memberikan gangguan
yang menetap pada bayi sampai dengan kematian bayi baru lahir. HIE ini pada
bayi baru lahir akan terjadi secara cepat dalam waktu 1-2 jam, bila tidak
diatasi secara cepat dan tepat (Aliyah Anna, 2007).
D. MANIFESTASI
KLINIS
1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau
kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
1) Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai
asfiksia
2) Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin
sedang asfiksia
3) Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin
dalam gawat
2. Pada bayi setelah lahir
1) Bayi pucat dan kebiru-biruan
2) Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3) Hipoksia
4) Asidosis metabolik atau respirator
5) Perubahan fungsi jantung
6) Kegagalan sistem multiorgan
7) Kalau sudah mengalami perdarahan
di otak maka ada gejala neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang
baik/ tidak menangis.
8) Bayi tidak bernapas atau napas
megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat,
tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan (Ngastiyah,
2005).
E. PATHWAY
(terlampir)
F. KLASIFIKASI
Ada 3 derajat asfiksia dari hasil APGAR yaitu :
1. Nilai Apgar 7-10,
Vigorous baby atau asfiksia ringan.
Bayi dalam keadaan baik sekali. Tonus otot baik,
seluruh tubuh kemerah-merahan. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak
memerlukan tindakan istimewa.
2. Nilai Apgar 4-6
Mild Moderat atau asfiksia sedang.
Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi
jantung lebih dari 100 kali permenit, tonus otot kurang baik, sianosis, reflek
iritabilitas tidak ada.
3. Nilai Apgar 0-3,
asfiksia Berat
Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kurang
dari 100 kali permenit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang
pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
G. PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1.
Nilai
darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
a. Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi
dengan asfiksia Hb cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
b. Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct
(normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga
resiko tinggi.
c. Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)
d. Distrosfiks pada bayi preterm dengan post
asfiksi cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi.
2.
Nilai
analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
a. pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung
turun terjadi asidosis metabolik.
b. PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi
post asfiksia cenderung naik sering terjadi hiperapnea.
c. PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi
post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.
d. HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
3.
Serum
Elektrolit
Nilai
serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :
a. Natrium (normal 134-150 mEq/L)
b. Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
c. Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
4.
Photo
thorax :
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung
ukuran normal.
H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Suportif
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut
resusitasi bayi baru lahir yang
bertujuan untuk rnempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala
sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusiksi bayi baru tahir mengikuti tahap
tahapan- tahapan yang dikenal dengan
ABC resusitasi :
1) Memastikan saluran
nafas terbuka :
1)
Meletakkan bayi pada posisi yang benar.
2)
Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trakea
3)
Bila perlu masukkan ET untuk memastikan pernafasan
terbuka
b.
Memulai pernapasan :
1)
Lakukan rangsangan taktil
2)
Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
c.
Mempertahankan sirkulasi darah :
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau
bila perlu menggunakan obat-obatan.
d.
Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah,
elektrolit )
Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan
tindakan khusus :
a.
Tindakan Umum
1)
Pengawasan suhu
2)
Pembersihan jalan nafas
3)
Rangsang untuk menimbulkan pernafasan
b.
Tindakan khusus
1)
Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera
dilaksanakan langkah utama memperbakti
ventilasi paru dengan pemberian 02 dengan tekanan dan intemitery cara terbaik
dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan 02 tidak lebih dari 30 mmHg.
Asfikasi berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas
natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4 mEq/kgBB
Kedua obat ini disuntikan ke dalam intra vena perlahan melalui vena
umbilikatis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit
banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah
tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak
didapatkan perbaikan. Pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung
eksternal dikerjakan dengan & frekuensi 80-I00/menit. Tindakan ini
diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1 : 3 yaitu setiap kali satu
ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding torak. Jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini
disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikorekrsi atau
gangguan organik seperti hernia diaftagmatika atau stenosis jalan nafas.
2) Asfiksia sedang
Stimulasi agar timbul reflek
pernafasan dapat dicoba bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapaan
spontary ventilasi aktif harus segera dilakukan. Ventilasi sederhana dengan
kateter 02 intranasal dengan filtrat 1-2 x/mnt, bayi diletakkan dalam posisi
dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan
mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit,
sambil diperhatikan gerakan dinding torak dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan
gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi
dihehtikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2
menit sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak
langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari
mulut ke rnulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventitasi dari
mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan 02, ventilasi
dilahirkan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas
spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhak jika setelah
dilekuknn berberapa saat teqadi penurunan frekuens jantung atau perbaikan tonus
otot intubasi endotrakheal harus segera dilahirkan, bikarbonas natrikus dan
glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak
memperlihatkan pernapasan teratur meskipun ventilasi telah dilakukan dengan
adekuat.
2. Terapi Medikamentosa
a.
Epinefrin
Indikasi:
1) Denyut jantung bayi
< 60x/menit setelah paling tidak 30 detik dilakukan ventilasi adekuat dan kompresi
dada belun ada respon.
2) Sistotik
Dosis : 0,1-0,3 ml / kgBB dalam lanrtan I : 10.000
(0,1 mg – 0,03 mg / kgBB). Cara : i.v atau endotakheal. Dapat diulang setiap
3-5 menit bila perlu
b. Volume Ekspander
Indikasi:
1) Bayi baru lahir yang
dilahirkan resusitasi rnengalami hipovolernia dan tidak ada respon dengan
resueitasi.
2) Hipovolemi
kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ,diitandai dangan adanya
pucat perfusi buruk, nadi kecil / lemah dan pada resusitasi tidak memberikan
respons yang adekuat.
Jenis Cairan :
1) Larutan laistaloid
isotonis (NaCL 0,9, Ringer Laktat). Dosis : dosis awal 10 ml / kgBB i.v pelan
selama 5-10 menit. Dapat diulang sampai menunjukkan respon klinis.
2) Transfursi darah gol
O negatif jika diduga kehilangn darah banyak.
c.
Bikarbonat
Indikasi:
1) Asidosis metabolik,
bayi-bayi baru lahiryang mendapatkan resusitasi. Diberikan bila ventilasi dan
sirkulasi sudah baik.
2) Penggunaan bikarbonat
pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia Harus disertai dengan pemerIksaan analisa gas
darah dan kimia.
Dosis : 1-2 mEq/keBB atau 2 ml/kgBB (4,2%) atau 1
ml/kg BB (7’4%).
Cara : diencerkan dengan aqua bidest dan destrosa 5 %
sama banyak diberikan secara i.v dengan
kecepaten min 2 menit.
Efek sarnping : pada keadaan hiperosmolarita, dan
kandungan CO2 dari bikarbonat merusak furgsi miokardium dan otak.
d. Nalokson
Nalokson hidroklorida adalah
antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan depresi pernapasan.
Indikasi:
1) Depresi pernapasan pada bayi bam
lahir yang ibunya menggunakan narkotik 4 jam sebelurn pmsalinan.
2) Sebelum diberikan
nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.
3) Jangan diberikan pada
bayi brug lahir yang ibunya baru dicurigai sebagai pemakai obat
narkotika sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba pada sebagian bayi.
Dosis : 0,1 mg kg BB ( 0,4 mg/ml atau
lmg/ml)
Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c (Wong, 2003)
- ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a.
Pengkajian
fokus
1) Sirkulasi
a)
Nadi
apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80
mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
b)
Bunyi
jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri
dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
c)
Murmur
biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
d) Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2
arteri dan 1 vena.
2) Eliminasi
Dapat
berkemih saat lahir.
3) Makanan/ cairan
a) Berat badan : 2500-4000 gram
b) Panjang badan : 44-45 cm
c) Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai
gestasi)
4) Neurosensori
a)
Tonus
otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
b)
Sadar dan
aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah
kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema,
hematoma).
c)
Menangis
kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas
genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
5) Pernafasan
a)
Skor
APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
b)
Rentang
dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
c)
Bunyi
nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak :
kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6) Keamanan
a)
Suhu
rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi
tergantung pada usia gestasi).
b)
Kulit :
lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda
atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal :
kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/
wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau
tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis
mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan
bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda
internal)
b.
Pemeriksaan
fisik
1)
Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan
ekstremitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
2)
Kepala : Kemungkinan ditemukan caput succedaneum
atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung.
3)
Mata : Warna konjungtiva anemis/tidak
anemis, tidak ada bleeding konjungtiva,
warna sclera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi
terhadap cahaya.
4)
Hidung : Terdapat pernafasan cuping hidung dan
terdapat penumpukan lendir.
5)
Mulut : Bibir berwarna pucat atau merah, ada
lendir atau tidak.
6)
Telinga : Perhatikan kebersihannya dan adanya
kelainan.
7)
Leher : Perhatikan kebersihannya karena leher
neonatus pendek.
8)
Thorax : Bentuk simetris, terdapat tarikan
intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekuensi bunyi jantung
lebih dari 100 x/menit.
9)
Abdomen : Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm
dibawah arcus costae pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit
berarti adanya asites/tumor, perut cekung adanya hernia diafragma,bising usus
timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum
sempurna.
10) Umbilikus :
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan/tidak, adanya tanda-tanda infeksi
pada tali pusat.
11) Genitalia :
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki-laki,
neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus
keputihan, kadang perdarahan.
12) Anus :
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari
faeces.
13) Ekstremitas :
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau
adanya kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
14) Refleks :
Pada neonates preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi
keterangan mengenai keadaan susunan saraf pusat atau adanya patah tulang
(Wahidiyat, 2003).
2. Diagnosa Keperawatan
a.
Bersihan
jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
b.
Pola
nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
c.
Kerusakan
pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
d.
Risiko
cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan
pada agen-agen infeksius.
e.
Risiko
ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
f.
Proses
keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
3. Rencana Keperawatan
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan nafas lancar. |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan
nafas lancar.1. Tidak menunjukkan demam.
2. Tidak menunjukkan cemas. 3. Rata-rata repirasi dalam batas normal. 4. Pengeluaran sputum melalui jalan nafas. 5. Tidak ada suara nafas tambahan. |
1. Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
2. Auskultasi suara nafas sebelum
dan sesudah suction
3. Bersihkan daerah bagian
tracheal setelah suction selesai dilakukan.
4. Monitor status oksigen pasien,
status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction.
|
1. pengumpulan data untuk
perawatan optimal
2. membantu mengevaluasi
keefektifan upaya batuk klien
3. meminimaliasi penyebaran mikroorganisme
4. untuk mengetahui efektifitas dari suction.
|
|
Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif.
Kriteria
hasil :
1. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif. 2. Ekspansi dada simetris. 3. Tidak ada bunyi nafas tambahan. 4. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal. |
1. Pertahankan kepatenan jalan
nafas dengan melakukan pengisapan lendir.
2. Pantau status pernafasan dan
oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
3. Auskultasi jalan nafas untuk
mengetahui adanya penurunan ventilasi.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemeriksaan AGD dan pemakaian alat bantu nafas
5. Berikan oksigenasi sesuai
kebutuhan.
|
1. untuk
membersihkan jalan nafas
2. guna meningkatkan
kadar oksigen yang bersirkulasi dan memperbaiki status kesehatan
3. membantu mengevaluasi
keefektifan upaya batuk klien
4. perubahan
AGD dapat mencetuskan disritmia jantung.
5. terapi
oksigen dapat membantu mencegah gelisah bila klien menjadi dispneu, dan ini juga membantu mencegahedema paru.
|
|
Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan
perfusi ventilasi.
|
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi.
Kriteria hasil : 1. Tidak sesak nafas 2. Fungsi paru dalam batas normal |
1. Kaji bunyi paru, frekuensi
nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
2. Auskultasi bunyi nafas, catat
area penurunan aliran udara dan / bunyi tambahan.
3. Pantau hasil Analisa Gas Darah
|
1. membantu mengevaluasi keefektifan
upaya batuk klien
2. membantu mengevaluasi
keefektifan upaya batuk klien
3. perubahan
AGD dapat mencetuskan disritmia jantung.
|
|
Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak
terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
|
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah.
Kriteria hasil :
1. Bebas dari cidera/ komplikasi. 2. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak. 3. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama |
1. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah merawat bayi.
2. Pakai sarung tangan steril.
3. Lakukan pengkajian fisik secara
rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan
adanya anomali.
4. Ajarkan keluarga tentang tanda
dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan.
5. Berikan agen imunisasi sesuai
indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis
|
1. untuk
mencegah infeksi nosokomial
2. untuk
mencegah infeksi nosokomial
3. untuk
mencegah keadaan yang lebih buruk.
4. untuk
meningkatkan pengetahuan keluarga dalam deteksi awal suatu penyakit.
5. meningkatkan imunitas
tubuh
|
|
Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya
suplai O2 dalam darah.
|
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal.
Kriteria Hasil :
1. Temperatur badan dalam batas normal. 2. Tidak terjadi distress pernafasan. 3. Tidak gelisah. 4. Perubahan warna kulit. 5. Bilirubin dalam batas normal. |
1. Hindarkan pasien dari
kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
2. Monitor gejala yang berhubungan
dengan hipotermi, misal fatigue, apatis, perubahan warna kulit dll.
3. Monitor TTV.
4. Monitor adanya bradikardi.
5. Monitor status pernafasan.
|
1. untuk
menjaga suhu tubuh agar stabil.
2. untuk
mendeteksi lebih awal perubahan yang terjadi guna mencegah komplikasi
3. peningkatan
suhu dapat menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi
4. penurunan
frekuensi nadi menunjukkan terjadinya asidosis resporatori karena kelebihan
retensi CO2.
5. untuk
mendeteksi lebih awal perubahan yang terjadi guna mencegah komplikasi
|
|
Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status
kesehatan anggota keluarga.
|
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat.
Kriteria Hasil : 1. Percaya dapat mengatasi masalah. 2. Kestabilan prioritas. 3. Mempunyai rencana darurat. 4. Mengatur ulang cara perawatan. |
1. Tentukan tipe proses keluarga.
2. Identifikasi efek pertukaran
peran dalam proses keluarga.
3. Bantu anggota keluarga untuk
menggunakan mekanisme support yang ada.
4. Bantu anggota keluarga untuk
merencanakan strategi normal dalam segala situasi
|
1. untuk
mengetahui tindakan yang tepat untuk diberikan
2. untuk
mempersiapkan psikologi keluarga
3. untuk
memanfaatkan dukungan yang ada dari keluarga.
4. untuk
mengatasi situasi yang tidak terduga.
|
DAFTAR PUSTAKA
Aminullah, A 2004, Ilmu
Kebidanan, Yayasan Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.
Aliyah, A dkk 2007, Resusitasi
Neonatal, Perkumpulan perinatologi Indonesia (Perinasia): Jakarta.
Effendi, N 2005, Pengantar Proses
Keperawatan, EGC : Jakarta
Hasan, R dkk 2011, Penata
Laksanaan Kegawat Daruratan Pediatrik, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit.
Jakarta, EGC.
Rustam, M 2008, Sinopsis Obstetri
Fisiologi Patologi, EGC : Jakarta.
Wahidiyat, I dkk.
2003, Diagnosis Fisik Pada Anak, Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta.
Wong, 2003, Keperawatan pediatri, Jakarta, EGC.
Betway Casino Review - DrmCD
BalasHapusBetway is 아산 출장안마 powered by one of the leading betting software providers. You can check 상주 출장안마 the registration, withdrawal times, banking and all 서귀포 출장마사지 the 김천 출장안마 important features. Visit Rating: 8.8/10 김천 출장샵 · Review by DrmCD